monumen pancasila sakti yogyakarta

Museum Pahlawan Pancasila
Museum yang terletak di kompleks Batalyon 403 Kentungan Sleman ini, diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1991 oleh KGPAA Paku Alam VIII selaku Gubernur DIY. Bangunan Monumen Pahlawan Pancasila bercorak arsitektur rumah tradisional Jawa (Joglo) di dalam bangunan itulah terdapat lubang tempat dikuburnya dua jenasah pahlawan revolusi Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono. Koleksi museum Monumen Pahlawan Pancasila berupa benda-benda realia dan peralatan-peralatan yang berkenaan dengan peristiwa penculikan kedua pahlawan revolusi yaitu Brigadir Jenderal Anumerta Katamso dan Kolonel Anumerta Sugiyono. Telepon yang dapat diakses adalah (0274) 562319 Jam buka museum Senin s.d Sabtu 08.30-14.00 WIB.

Status Museum : Pemerintah (Dinas Sosial)
Jenis Museum : Museum Khusus

Latar Belakang Pendirian Museum:
PERISTIWA KENTUNGAN YOGYAKARTA
(21 OKTOBER 1965)
Pada tanggal 1 Oktober 1965 di Yogyakarta, G.30 S/PKI berhasil menguasai RRI, Markas Korem 072 dan megumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Pada sore harinya mereka menculik Komandan Korem 072, Kolonel Katamso dan Kepala Staf Korem Letnan Kolonel Sugiono dan membawanya kedaerah Kentungan. Kedua perwira tersebut dipukul dengan kunci mortar dan tubuhnya dimasukan dalam sebuah lubang yang sudah disiapkan. Kedua jenazah baru ditemukan pada tanggal 21 Oktober 1965 dalam keadaan rusak, setelah dilakukan pencarian secara intensif. Maka dengan alasan memiliki nilai historis yang tinggi dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, maka didirikanlah museum ini dengan pertimbangan sebagai berikut:
(1) Pembunuhan kejam terhadap dua orang pahlawan revolusi terjadi di Kentungan.
(2) Batalyon L erat kaitannya dengan terjadinya peristiwa penculikan dan pembunuhan dua orang pahlawan revolusi yang berlokasi di Kentungan,
(3) Setiap tahun peringatan “Hari Kesaktian Pancasila” di Daerah Istimewa Yogyakarta dilaksanakan di lapangan Kentungan.
Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, Monumen Pahlawan Pancasila dibangun di lokasi terjadinya peristiwa pembunuhan dua orang pahlawan revolusi dapat dijadikan sarana efektif dalam memberikan informasi dan mudah dihayati bagi semua pihak tentang bukti-bukti sejarah kekejaman G – 30 – S / PKI di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Adapun bangunan monumen pokok :
1) Bangunan Joglo seluas 144 m2 berukuran 12x12m. Di dalam bangunan Joglo terdapat 2 buah lubang bersambung membujur dari barat ke timur. Lubang sebelah barat panjangnya 1,80m, lebar 0,50m, dalam 0,70m. Sedangkan lubang sebelah timur panjangnya 1,70m, lebar 0,50m, dalam 0,70m. Pada lubang tersebut ditemukan jenazah 2 pahlawan revolusi, yaitu :
· TNI Anumerta Katamso yang berada di sebelah barat membujur ke barat.
· Kolonel Infanteri Sugiyono yang berada di sebelah timur membujur ke timur.
Lubang tersebut perlu dilestarikan sebagai bukti sejarah yang menunjukkan kekejaman PKI.
2) Di sebelah selatan, terdapat patung lambang Garuda Pancasila dalam bentuk 3 dimensi.
3) Halaman atas yang mengelilingi joglo, di sebelah utara ada 2 patung menghadap ke utara menggambarkan 2 pahlawan revolusi.
4) Pagar yang mengelilingi Joglo terletak di antara halaman atas dan bawah terdapat gamabar relief sebanyak 8 buah.
5) Bangunan gedung serbaguna dengan ukuran 17mx18m. Di ruangan tepi sebelah utara dan selatan, ditempatkan almari kaca untuk menyimpan replika benda-benda yang dipergunakan pada waktu peristiwa pembunuhan kedua pahlawan revolusi, dan juga menyimpan buku-buku sejarah perjuangan.
6) Tempat parkir berada di sebelah timur gedung serbaguna.
7) Pintu gerbang dan plaza berada di sebelah barat.
8) Pagar transparan mengelilingi lapangan upacara.
9) Terdapat 2 rumah jaga.
10) Di sebelah utara bangunan monumen pokok, adalah lapangan upacara Hari Kesaktian Pancasila.

Karateristik Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan
Bangunan Bentuk bangunan Monumen Pahlawan Pancasila bercorak arsitektur rumah tradisional Jawa berbentuk joglo. Di dalam bangunan itu terdapat dua buah lubang tempat dikuburnya dua jenazah pahlawan revolusi, yaitu Brigadir Jenderal TNI Anumerta Katamso dan Kolonel Infantri Anumerta Sugiyono. Di sebelah selatan lubang terdapat patung lambang Garuda Pancasila berbentuk tiga dimensi diletakkan di atas selasar menghadap ke utara merupakan lambang perjuangan yang dimiliki bersama dan para pahlawan revolusi. Halaman atas mengelilingi joglo, di sebelah utara terdapat dua buah patung menghadap ke utara yang menggambarkan dua orang pahlawan revolusi. Patung yang di sebelah timur menggambarkan Kolonel Infanteri Katamso ketika menjabat Komandan Korem 72 merangkap Komandan Kodim 734, Yogyakarta.

Sebagian besar koleksi-koleksi yang ada di Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan berupa relief. Relief tersebut terpampang pada pagar yang mengelilingi joglo, yang terletak di antara halaman atas dan halaman bawah. Relief-relief itu sebagai berikut.
(1) Relief 1 melukiskan peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, Kolonel Infantri Katamso, Komandan Korem 72, diculik oleh anggota Batalyon L. Beliau dibawa dari rumahnya di Jalan Jenderal Sudirman dengan mengenakan pakaian preman.
(2) Relief 2 melukiskan Letnan Kolonel Infantri Sugiyono, Kepala Staf Korem 72, diculik oleh anggota Batalyon L di ruang kerjanya Makorem 72.
(3) Relief 3 melukiskan Kolonel Infantri Katamso dibunuh secara keji oleh anggota Batalyon L dengan cara dipukul menggunakan kunci martil 8. Oleh karena pukulan pertama agak meleset, kemudian diikuti oleh pukulan kedua yang menyebabkan Kolonel Katamso gugur. Setelah itu jenazah Kolonel Katamso dimasukkan ke dalam lubang yang telah disediakan.
(4) Relief 4 melukiskan Letnan Kolonel Infantri Sugiyono dibunuh dengan menggunakan kunci martil 8. Ketika itu jenazah Letnan Kolonel Infantri Sugiyono dimasukkan ke dalam lubang yang sama, suara dengkur Sugiyono masih terdengar. Untuk menghilangkan nyawa Sugiyono, jenazah itu dilempari batu sehingga Letnan Kolonel Sugiyono gugur.
(5) Relief 5 melukiskan Batalyon L diberangkatkan dari stasiun Lempuyangan Yogyakarta ke luar Jawa.
(6) Relief 6 melukiskan bahwa setelah diadakan penggalian tampak jenazah Kolonel Infentri Katamso ditemukan dalam posisi miring dan dalam keadaan tergenang air.
(7) Relief 7 melukiskan penemuan jenazah Letnan Kolonel Infantri Sugiyono. Setelah digali jenazah itu masih mengenakan tanda pangkat Letnan KolonelSugiyono
(8) Relief 8 melukiskan pemberangkatan pemakaman dua jenazah pahlawan revolusi.

I. BRIGJEN TNI ANMUMERTA KATAMSO DHARMOKUSUMO
A. Riwayat Hidup
Lahir di Sragen, 5 Februari 1923. Ayahnya bernama Ki Sastrodarmo sedang Istrinya bernama RR. Sriwulan Murni. Katamso Dharmokusumo berhasil menyelasikan pendidikannya di HIS, MULO, SESKO – AD, dan PETA. Beliau mempunyai 7 ( tujuh) orang anak.
B. Riwayat Perjuangan
1. Katamso yang sempat menyelesaikan pendidikan MULO tidak sempat melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi karena Jepang menduduki Indonesia. Katamso Dharmokusumo masuk pendidikan PETA dan setelah selesai diangkat menjadi Boudanco pada Dai II Raidan (Batalyon II) di Solo, setahun kemudian diangkat menjadi Syodanco yang berkedudukan di Solo.
2. Setelah diproklamasikan Kemerdekaan RI, Katamso Dharmokusumo masuk BKR yang kemudian ditransformasikan kedalam TKR. Katamso Dharmokusumo diangkat menjadi Komandan Kompi Klaten dan bulan Oktober 1946 pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten. Pada waktu agresi militer Belanda II, namanya makin dikenal masyarakat karena pasukannya sering melancarkan serangan gerilya mengganggu kedudukan Belanda di dalam kota.
3. Tahun pertama sesudah pengakuan Kedaulatan RI. Keamanan negara diganggu gerombolan DI/TII, disamping adanya pemberontakan Batalyon 423 dan Batalyon 426 yang kemudian bergabung dengan DI/TII. Kapten Katamso pun terlibat dalam usaha penumpasan pemberontakan tersebut. Tahun 1957 ia mengikuti pendidikan Sekoad Angkatan 6 di Bandung. Tahun 1958 si Sumatra Barat timbul pemberontakan PRRI yang kemudian diikuti oleh Sulawesi Utara dengan berdirinya Permesta. Mayor Katamso yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekoad dipercaya untuk memimpin Batalyon A Operasi 17 Agustus yang merupakan operasi gabungan untuk memadamkan Pemberontakan PRRI.
4. Selesai operasi utama angkatan perang melancarkan operasi pembersihan. Mayor Katamso diangkat sebagai Assisten Operasi Resimen Team pertempuran II Diponegoro yang berkedudukan di bukit tinggi. Awal tahun 1959 naik pangkat menjadi Letnan Kolonel. Bulan Agustus 1959 ia diangkat menjadi Kepala Staft Resimen Riau Daratan Kodam III/ 17 Agustus, kemudian menjadi pejabat Kepala Staf Resimen Team Tempur I/Tegas yang berkedudukan di Riau.
5. Setelah ditarik ke Jakarta ia diserahi jabatan sebagai perwira diperbantukan pada Asisten III kepala Staf Angkatan Darat, kemudian sebagai Komandan Pusat Pendidikan dan Infantri AD di Bandung. Pada bulan Agustus 1963 ditarik ke Kodam VII Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta.
6. Sebagai komandan teritorial, Katamso berusaha mendekatkan diri dengan rakyat, memperhatikan kesejahteraan pendidikan bahkan membangun gedung baru untuk sekolah. Pada tingkat mahasiswa Katamso sempat melatih kemiliteran dengan harapan sewaktu – waktu mahasiswa diperlukan sudah mampu memimpin sebuah kompi.
7. Semua rencana Katamso terhalang dengan meletusnya G30S/PKI. RRI Jakarta yang sudah dikuasi PKI mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi. Para pejabat teras Angkatan Darat di Jakarta mereka diculik dan mereka terbunuh.
8. Pada saat masyarakat diliputi keraguan, PKI telah menyiapkan rencana untuk memperebutkan kekuasaannya di Yogyakarta. Sasaran pertamanya adalah Kolonel Katamso.
9. Tanggal 1 Oktober 1965, Setelah Kolonel Katamso kembali dari Magelang, kepadanya disodorkan persyaratan mendukung Dewan Revolusi. Dengan tegas Kolonel menolaknya. Ketika mengadakan rapat dengan para staf di rumahnya, katamso sangat terkejut mengetahui para stafnya banyak yang dipengaruhi PKI. Di bawah todongan senjata, ia dibawa ke Desa Kentungan. Malam tanggal 2 oktober 1965 ia dibunuh. Mayatnya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan. Ke dalam lubang itu pula letnan Kolonel Sugiyono dimasukkan, tanggal 22 Oktober 1965 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta.
10. Pemerintah menghargai jasa-jasa dan pengabdian Kolonel Katamso terhadap bangsa dan negara, dengan surat keputusan Presiden : 118/KOTI/tahun 1965 tanggal 19 Oktober 1965 ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi, pangkatnya dinaikkan secara Anumerta menjadi Brigadir Jenderal.

demkian ...

Tidak ada komentar