memperlama memperpanjang hukum sujud terakhir

Oleh Dilla Amalia

Dalam sujud trakhirku YAALLAH
Kuteriakkan asma-Mu sekeras-kerasnya
Agar runtuh dinding kesombongan dalam hatiku

Dalam sujud trakhirku YARABBI
Ku menangis sejadi-jadinya
Biar kering mata ini
Namun basah landang hati yang gersang

Dalam sujud trakhirku YARAHMAN
Ku lihat semua dosa yang membayangi ku
Kelam mencengkram jiwa yang rusuh

Dalam sujud trakhirku YARAHIM
Biarkan aku patah dalam cahaya-Mu
Biarkan ku musnahkan titik - titik kemunafikan ku
Agar ku kembali dalam pelukan hidayah-Mu

Dalam sujud trakhirku
Biarkan aku hirup nafasku sekali lagi
Hanya untuk menyebut nama-Mu

Wa’alaikumussalam wr. wb.

Sejauh pengetahuan saya tidak ada anjuran khusus doa yang perlu dibaca pada sujud terakhir. Tidak pula ada anjuran khusus untuk memperpanjang sujud yang terakhir ketika kita sedang melaksanakan shalat.


والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه أما بعد


- Di dalam sembahyang fardhu, tiada diriwayatkan hadis2 Nabi memanjangkan sujudnya melebihi kadar biasa, malahan sembahyang Nabi SAW adalah sembahyang yg sangat pertengahan. Dan Nabi SAW mengarahkan imam2 supaya meraikan warga tua, kanak2, dan orang kurang upaya.

-Di dalam sembahyang gerhana matahari, sabit dalam hadis sahih bahawa baginda memanjangkan sujudnya, sehingga Aisyah r.a. berkata: “AKu tidak pernah sujud selama itu”. HR Bukhari 1/357

-Di dalam qiyamullail (solat malam) baginda SAW pernah memanjangkan sujudnya, sebagaimana hadis Aisyah r.a. “Bahawa Rasulullah saw sembahyang 11 rakaat. Sembahyang baginda, sekali sujudnya adalah sekadar seseorang membahca 50 ayat”.
HR Bukhari 1/378

-Cuma memanjangkan sujud hanya pada sujud terakhir (sebelum tasyahhud akhir) tidak ada dalil yg menunjukkannya.
kata syeikh Jibrain: “Aku tidak pernah ingat ada dalil yg menunjukkan dipanjangkan sujud terakhir. Yang ada ialah hadis2 yg menjelaskan tentang persamaan antara rukun2 smbahyang, atau rukun2nya adalah lebih kurang sama panjang”.
-Fatawa Islamiyyah m/s 285

wallahu a’lam.


Memang, ada hadits yang menyebutkan bahwa saat-saat terdekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Hadits itu bersumber dari Abu Hurairah ra. dan diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadits itu Rasulullah saw. bersabda, “Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhan adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” Tetapi, seperti dapat kita baca, redaksi hadits itu tidak sama sekali menyebutkan sujud terakhir secara spesifik. Ditambah lagi, baik Nabi saw. maupun sahabat-sahabat beliau tidak mengkhususkan sujud terakhir untuk dipanjangkan. Itu artinya anjuran untuk memperbanyak doa pada saat kita sedang sujud berlaku untuk semua sujud. Tidak khusus pada sujud terakhir saja.

Tidak sedikit ulama yang melarang memperpanjang sujud terakhir secara khusus, baik ketika kita sedang menjadi makmum maupun menjadi imam. Sebab, pertama, jika itu kita lakukan pada saat kita menjadi makmum, kita sudah melanggar keharusan mengikuti imam. Ketika imam sudah bangun dari sujud tetapi kita masih memperpanjang sujud kita, itu namanya kita tidak patuh mengikuti imam. Padahal, seseorang dijadikan imam adalah untuk diikuti. Ini prinsip penting.

Kedua, ketika kita menjadi imam dan kita memperpanjang sujud terakhir, itu berlawanan dengan anjuran untuk memperingan (meringankan) shalat bagi seorang imam. Imam harus mempertimbangkan kondisi makmumnya, sebab tidak semua makmum kuat untuk berlama-lama melakukan sujud.

Oleh karena itu, kalau kita ingin memperbanyak doa dalam sujud –sesuai anjuran hadits Abu Hurairah di atas– caranya adalah memperpanjang semua sujud secara kurang lebih sama panjang, bukan khusus sujud terakhir saja. Dan itu akan lebih baik lagi jika dilakukan saat kita shalat sendiri. Tidak sebagai makmum, tidak juga sebagai imam.


Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin rahimahullah juga menjelaskan, “Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan seperti ini sebagai isyarat pada makmum bahwa ketika itu adalah raka’at terakhir atau ketika itu adalah amalan terkahir dalam shalat. Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah, mereka maksudkan agar para jama’ah tahu bahwa setelah itu adalah duduk terakhir yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.” (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari website beliau)

Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa tidak ada anjuran untuk memperlama sujud terakhir ketika shalat agar bisa memperbanyak do’a ketika itu. Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya. Silakan membaca do’a ketika sujud terakhir, namun hendaknya lamanya hampir sama dengan sujud sebelumnya atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat untuk diikuti. Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.” (HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah)

Hanya Allah yang memberi taufik.


Dari artikel 'Adakah Anjuran Memperlama Sujud Terakhir untuk Berdo’a? — Muslim.Or.Id'

Tidak ada komentar